traces and artifacts

something's wrong

Tahun lalu, aku menjadi sangat sinis. Aku tidak lagi melihat dunia dengan kacamata yang penuh harap. Dua tahun sebelumnya, aku masih bisa punya asa yang radikal. Tahun lalu, rasanya aku sudah kalah melawan keputusasaan.

Mungkin, tahun lalu terlalu banyak yang aku lalui, sampai-sampai aku kehilangan semangat dan optimisme. Lebih parahnya lagi, kepercayaan diri.

Rasanya segala hal itu menjadi tidak mungkin dan pasti berakhir buruk. Padahal, aku tahu betul bahwa pikiran semacam itu bisa jadi termanifestasi. Namun, rasanya aku tidak lagi peduli soal itu menjadi kenyataan atau tidak.

Masih teringat jelas di ingatan, awal tahun 2025 diwarnai dengan konflik. Konflik dengan kantor lamaku dan konflik dengan serikatku yang aku pikir akan selalu berada di pihakku. Nyatanya, mereka malah cuma melihatku sebagai "anak ingusan dan anak kemarin sore". Berani-beraninya mereka menggunakan taktik ala fasis dengan mengintimidasiku, mencabut hak bicaraku, dan membuatku merasa tidak aman. Secara tidak sadar, mereka melakukan itu pasti karena aku "perempuan muda".

Konflik dengan kantor lamaku, jangan ditanya lagi. Iya, masih belum tuntas hingga saat ini. Sudah setahun lebih. Entah bagaimana nasibku dan kawan-kawan sekarang, kami hanya bisa tetap melanjutkan hidup sambil merasa terus dibayangi masalah, beserta beragam fitnah dan tuduhan yang dipercayai sebagian orang.

Aku rasa tanpa aku sadari, konflik di kantor lamaku inilah penyebab utama aku merasa berkecil hati dari banyak hal. Awalnya, ketika baru-baru berkonflik, aku masih punya semangat juang dan keyakinan bahwa aku berada di jalan yang benar. Namun semakin lama, semakin aku harus melanjutkan hidupku dengan bekerja dan berusaha mengejar cita-cita, aku sedikit banyak menyesal telah melakukan ini semua. Aku kehilangan banyak hal, lebih banyak dari yang bisa aku dapatkan.

Aku merasa marah pada diriku sendiri. Seandainya aku bisa lebih sabar untuk mencari muka dan menjilat pantat si ketua, aku mungkin sudah bisa berangkat S2 ke luar negeri. Seandainya aku lebih banyak memikirkan hal-hal material dan mengetahui posisiku sebagai anak kurang mampu (secara material dan talenta), seandainya aku bisa bertahan sedikit lebih lama dan dikenal teladan oleh mereka, seandainya aku lebih cerdik untuk memanfaatkan situasi sekalipun aku merasa tidak berkembang berada di sana, aku yakin jalan karierku ke depan akan lebih mulus daripada sekarang.

Sekarang, aku cuma terluntang-lantung. Masalah belum selesai, pekerjaan sebagai peneliti belum juga dapat, sekolah juga belum lanjut. Cita-cita rasanya hampir terbakar hangus.

Tidak mudah untuk kembali melanjutkan dan menata ulang karier setelah berkonflik di ranah hukum seperti ini. Hal yang orang lain tidak ketahui adalah seberapa takutnya aku untuk melamar kerja, terlebih ketika aku harus mencantumkan referensi dari tempat kerja sebelumnya. Aku takut orang-orang mengetahui konflik di antara aku dan kantor lamaku, mengetahui seberapa membangkangnya aku dan termakan fitnah dari kantor lamaku.

Aku juga takut untuk berurusan lagi dengan kantor tempatku bekerja yang terakhir. Aku merasa aku mengacaukan relasiku dengan mereka. Pesan dari mereka tidak kubalas. Aku cuek untuk tidak keluar grup dan berpamitan. Lebih parahnya lagi, aku berbohong soal alasan aku tidak melanjutkan kontrak.

Mereka baik, tapi rasanya sulit untuk menjadi lebih berani mengutarakan keinginan dan perasaanku kepada mereka. Ekses-ekses dari pengalaman tidak menyenangkan bekerja sebelumnya, membuatku ciut alih-alih berani. Aku takut orang lain tidak mengerti aku, aku takut alasanku tidak bisa diterima. Aku menjadi penakut. Aku pikir semua orang, semua tempat kerja, sebaik-baiknya akan sama saja seperti organisasi "feminis" yang satu itu.

Belakangan, aku seperti selalu kabur dari semua orang karena aku terlalu takut dan cemas. Aku tidak punya keberanian sedikit pun untuk membalas pesan mereka. Padahal banyak dari mereka mungkin memberikan kesempatan untukku, tapi entah rasanya aku tidak bisa menerima itu. Aku merasa begitu rendah diri. Aku merasa tidak pantas.

Menyabotase diri sendiri, justru itu yang membuat pikiran burukku termanifestasi. Sulit untu mengerem upaya sabotase ini meskipun aku sadar aku semakin terserap ke dalam lubang hitam yang dalam, membuatku kian sulit keluar dan bangkit.

Aku juga merasa, sebesar apa pun aku berusaha, tidak ada yang bisa mengapresiasiku sedemikian rupa. Tidak ada yang bisa melihat potensiku. Tidak ada yang bisa melihat sisi baikku.

Teman-temanku dan pacarku mungkin saja bisa, tapi orang lain yang aku harapkan bisa juga melihatnya, malah meremehkanku dan tidak menganggapku cemerlang. Terbukti dari begitu banyak penolakan yang aku terima, dari organisasi atau orang yang aku pikir menghargai kemampuanku. Aku pun mulai berpikir, jangan-jangan memang aku tidak punya kemampuan apa pun. Pada akhirnya, perasaan bahwa aku tidak pantas dan rendah diri ini pun menjadi semakin teramplifikasi.

Hal terburuk dari semua ini adalah kehilangan diri sendiri. Rasanya aku selalu tidak yakin dengan diri sendiri, dengan apa yang sebelumnya aku yakini, dengan impianku. Aku telah banyak berubah karena goyahnya segala keyakinan atas diriku.

Berkali-kali aku berpikir untuk menyerah saja. Berkali-kali juga aku berusaha berpegangan pada keyakinan atas diriku sendiri. Namun, masih sulit untuk bisa konsisten menjadi yakin ketika aku terus menerus menyabotase diriku sendiri.

Aku terus bertanya-tanya, kemana Rafa yang dulu? Rafa yang percaya diri? Rafa yang berani? Rafa yang energik? Rafa yang antusias?

Aku ingin ia cepat-cepat kembali, tapi mengapa begitu sulit agar ia cepat kembali dan bertahan seperti dulu.

Tahun ini 2026—tahun baru—aku hanya bisa berharap ia cepat kembali dan bertahan, berada terus setia di sisiku lagi. Aku mohon.